jump to navigation

Pribadi yang unggul September 25, 2008

Posted by Global Quasis in Experience, Kesaksian, Life Story.
add a comment

Saya membaca pengalaman yang luar biasa ini saat berada di sebuah taksi dalam perjalanan dari rumah ke kantor pagi ini. Kisah-kisah yang diceritakan dalam majalah itu merupakan kiriman dari para penumpang yang berterima kasih karena merasa sangat terbantu, terinspirasi dan mengalami pengalaman yang tidak akan mereka lupakan selama berinteraksi dengan pengemudi taksi dari perusahaan tersebut.

Namanya Ferry Anita, seorang pengemudi taksi wanita Blue Bird dari Pool Narogong, Bekasi. Salah seorang penumpang mengirimksurat kepada manajemen Blue Bird yang berisikan ucapan salut karena apa yang telah dilakukan oleh Ferry. Saat membawa penumpang di sekitar jalan Tol Bekasi Barat di pagi hari, tiba-tiba Ferry menghentikan dengan tiba-tiba taksinya. Hal ini tentu mengagetkan penumpang. Hal ini dia dilakukan karena tepat di depan mereka ada sebuah mobil sedan yang terguling dengan posisi mobil miring kekiri dan berada di tengah badan jalan tol.

Segera Ferry meminggirkan taksinya di dekat mobil yang terguling dan secepatnya keluar untuk membantu. Ternyata di dalam mobil ada sepasang suami istri yang terperangkap. Untungnya kondisi mereka tidak parah karena tertahan oleh seat belt. Dengan dibantu oleh penumpang taksinya akhirnya Ferry berhasil mengeluarkan kedua orang itu dan meletakkannya di pinggir jalan. Ferry kemudian mengambil bekal air mineral dan minyak kayu putih yang selalu dia bawa di taksinya dan memberikannya kepada kedua orang yang terluka itu. Selama kejadian itu tidak ada seorangpun pengemudi yang lewat di pagi yang ramai itu untuk turun membantu. Mereka hanya melambatkan mobilnya dan melihat upaya penyelamatan itu dan kemudian melaju kembali. Ferry dan penumpang taksinya menemani kedua orang yang terluka itu sampai akhirnya petugas jalan tol datang dan merekapun kembali melanjutkan perjalanan.

Pengalaman berbeda dialami oleh Murdo Caroko seorang pengemudi Blue Bird dari Pool Kelapa Gading. Sebelum menjadi pengemudi taksi, Murdo adalah seorang pegawai di Pelabuhan Tanjung Priok. Suatu malam di dekat kawasan Hotel Mulia Senayan ada seorang bapak yang menyetop taksinya dan minta diantar ke daerah Pluit. Bapak tersebut membawa 1 tas besar dan sebuah bungkusan plastic berwarna putih. Setelah sampai tujuan, sesuai dengan standar yang berlaku di Blue Bird Murdo meminta si bapak untuk memeriksa jangan sampai ada barang yang tertinggal.

Setelah melanjutkan perjalanan beberapa menit, Murdo melihat ke kursi penumpang melalui kaca tengah ada bungkusan plastik putih tertinggal yang diletakkan agak masuk dalam lipatan kursi. Segera dia berhenti dan mengambil bungkusan plastik itu. Sepintas isi tas plastik itu adalah perhiasan dan agar lebih jelas dia turun dan melihat kembali isi bungkusan itu. Ternyata isinya berbagai macam perhiasan emas dan berlian yang jumlahnya cukup banyak. Segera saja Murdo memutar mobilnya kembali ke tempat si bapak tadi turun dan menunggu selama beberapa lama.

Karena bapak yang ditunggu tidak juga muncul akhirnya barang itu dia bawa segera ke pool untuk disimpan. Esok paginya dia mendapat panggilan untuk segera kembali ke pool dan disana ternyata sudah menunggu 4 orang salah satunya adalah bapak penumpang taksinya beserta bungkusan plastik yang tertinggal. Bapak tersebut segera menghampiri dan memeluk Murdo sambil berkata “Terima kasih pak, karena kejujuran bapak telah menyelamatkan hidup orang lain”. Orang yang ikut denganbapak tersebut bergantian memeluk Murdo dan berucap terima kasih. Bapak tersebut kemudian menjelaskan bahwa perhiasan yang tertinggal kemarin hendak dijual dan uangnya akan digunakan untuk biaya operasi anggota keluarganya yang saat ini sedang dalam kondisi kritis di Rumah sakit.

Bapak tersebut mengeluarkan sejumlah uang yang banyak dan hendak diberikan kepada Murdo, namun dia menolak dan berkata bahwa itu memang sudah kewajibannya mengembalikan barang yang memang bukan hak-nya. Karena terus menolak akhirnya Bapak tersebut berjanji akan memberikan bantuan bea siswa kepada anak-anak Murdo sampai mereka selesai sekolah. Saat saya membaca pengalaman-pengalaman menakjubkan itu tanpa terasa ada rasa haru, takjub dan bangga bahwa ternyata kebaikan dan kejujuran itu tetaplah sesuatu yang amat indah wujudnya.

Kedua tokoh dalam pengalaman diatas memiliki hal yang sama: karakter pribadi yang unggul. Walaupun mereka sebenarnya punya pilihan untuk terus saja saat melihat ada kecelakaan atau mengambil barang yang tertinggal tapi mereka lebih memilih untuk peduli pada orang lain dan mengutamakan kejujuran.

Terimalah Dengan Ikhlas August 15, 2008

Posted by Global Quasis in Articles, Experience, Kesaksian, Life and Character, Life Story, Renungan.
add a comment

Oleh: Sunanto

Ketika Ayub, orang saleh tersebut kehilangan semua anak-anaknya dan harta bendanya, dia tidak menyalahkan Allah dan masih bisa memuji Tuhan. Ketika tubuh Ayub ditimpa barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, dia masih tidak menyalahkan Tuhan. Ketika isterinya menyarankan Ayub untuk mengutuki Allah masih tetap tidak berdosa dengan bibirnya.

Saya percaya bahwa Ayub sebelumnya telah pernah mengalami pergumulan dalam hidupnya dan mungkin dari pengalamannya tersebut dia memiliki pengharapan bahwa Tuhan tidak akan terlambat memberi pertolongan kepadanya. Akan tetapi, untuk kali ini pertolongan Tuhan sepertinya tidak datang-datang juga.Tidak terjadi mujizat seperti yang dia pernah alami sebelumnya. Lambat laun iman Ayub mulai goyah sehingga dia mengutuki hari kelahirannya dan menyalahkan Allah yang telah bersikap tidak adil kepadanya. Kemudian Ayub membela diri dan menuntut Allah bahwa dia merasa tidak bersalah. Tetapi pada akhirnya Ayub mencabut perkataannya dan menyesal sehingga Tuhan memulihkan hidupnya.

Saya dulu pernah bergumul menghadapi penyakit kanker yang diderita alm Ayah saya. Selama sekitar 3 bulan saya harus menemani Ayah saya di rumah sakit. Bagi Anda yang pernah melihat orang yang sedang dirawat kanker stadium akhir, tentu dapat memahami bagaimana beratnya penderitaan yang dialami. Sekujur tubuhnya sakit dan mengalami pembengkakan sehingga pasien banyak yang minta disuntik mati karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerang. Belum lagi efek dari kemoterapi yang menyebabkan sekujur tubuhnya kepanasan. Walaupun saya tidak benar-benar memahami mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, saya memutuskan untuk menerima dengan ikhlas dan bersyukur kepada Tuhan. Karena kurang tidur dan istirahat selama berbulan-bulan saya terserang penyakit nyeri di kepala yang baru sembuh setelah satu tahun berlalu sejak meninggalnya Ayah saya. Di kepala saya tumbuh bisul yang sakitnya menjalar ke telinga, punggung sampai ke telapak kaki. Pada awalnya saya mengira bisul tersebut akan mudah disembuhkan tetapi Tuhan mengijinkan setahun lebih saya menderita sakit tersebut. Sejujurnya saya sempat kesal juga dengan bisul yang tidak sembuh-sembuh itu.Apalagi saat sakit tersebut mulai menjalar ke telinga dan punggung, bahkan kadang saya mengalami serangan vertigo (keadaan seperti gempa bumi).

Madame J. Guyon mengatakan kita harus menerima segala sesuatu ( kecuali dosa kita) seperti datang dari Tuhan sendiri. Setiap kali penderitaan datang dalam hidup kita, terimalah dengan ikhlas dan serahkan diri kita kepada Tuhan.Dengan melakukan hal ini maka salib yang menimpa kita akan terasa jauh lebih ringan ketimbang bila kita memberontak atau melawan proses Allah. Biarlah api penderitaan tersebut memunculkan emas kesalehan dari diri kita. Inilah proses yang harus dilalui oleh setiap orang yang ingin mengalami indahnya hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Tidak ada jalan lain kecuali jalan salib yang dapat membawa kita ke sana !

Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah July 31, 2008

Posted by Global Quasis in Life Story.
add a comment
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
1 Timotius 6:8
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir
hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih
dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Bersyukurlah senantiasa….

G B U
N o v i e

Arti Sebuah Ketulusan July 25, 2008

Posted by Global Quasis in Articles, Experience, Kesaksian, Knowledge, Life and Character, Life Story, Spirit Lesson.
add a comment

John Blanchard tertarik dengan seorang gadis yang dikenalnya lewat surat menyurat. Ia belum pernah tahu seperti apa wajah dan penampilannya. Yang ia tahu bahwa ia lembut, baik, penuh kasih dan sungguh hatinya manis.

Demikianlah kesimpulannya setiap kali membaca surat dari Miss Hollis
Maynell, gadis yang dikenal lewat surat menyurat itu. Lebih dari satu tahun Blanchard saling berkirim surat dengan Miss Maynell. Setiap surat merupakan benih yang jatuh dalam hati yang subur. Sebuah kisah cinta mulai bersemi di antara mereka. Blanchard pernah minta dikirimi foto, tapi gadis itu menolaknya. Menurut dia, kalau memang Blanchard benar-benar mencintainya, tidak menjadi soal bagaimana paras mukanya. Setelah satu tahun berlalu mereka memutuskan untuk bertemu di Grand Central Station, New York, dengan
tanda bahwa Miss Maynell akan menyelipkan mawar ke bajunya.

Waktu yang ditentukan tiba, dan Blanchard dengan hati berdegup mulai mencari-cari gadis dengan bunga mawar. Dalam pencariannya itu, ia bertemu dengan seorang gadis yang luar biasa cantik. Blanchard mulai berjalan beriringan dengannya beberapa waktu lamanya ketika gadis itu bertanya, “Anda ke jurusan sama seperti saya?” Hanya sayang, gadis itu tidak memakai mawar
merah. Dan ketika ia sedikit menoleh ke belakang, ia melihat seorang wanita dengan bunga mawar merah berdiri di belakang gadis itu.

Wanita itu jauh di atas 40 tahun. Terlalu gemuk untuk ukuran wanita.
Parasnya pun sangat biasa. Sangat berbeda jauh dengan gadis cantik tadi.
Blanchard sedikit bimbang. Ia ingin mengikuti gadis cantik tadi, tapi
hatinya sudah terlanjur melekat dengan tulisan-tulisan lembut Miss Haynell. Ia lebih memilih hati daripada mencintai paras dan penampilan luar. Akhirnya ia putuskan untuk menyatakan diri kepada wanita gemuk itu. “Saya John Blanchard dan Anda pasti Miss Mayneel. Saya sangat senang bertemu dengan Anda dan kalau tidak keberatan saya mengundang Anda untuk makan malam.”

Wanita itu tersenyum, “Saya tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Tetapi gadis cantik di depan saya tadi membujuk saya untuk memakai bunga mawar ini.
Dan katanya, kalau Anda mengundang saya untuk makan malam, saya harus mengatakan kepada Anda bahwa ia sedang menunggu Anda di restoran besar di depan sana. Katanya, ini semacam ujian hati untuk sebuah cinta dan ketulusan!”

Coca cola dalam renungan July 24, 2008

Posted by Global Quasis in Announcement, Articles, Experience, Happiness, Kesaksian, Knowledge, Life and Character, Life Story, Love, News, Peace.
add a comment

Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana . Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan
dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam
gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama ?

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP. Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.

Doa… July 24, 2008

Posted by Global Quasis in Articles, Experience, Kesaksian, Life Story, Spirit Lesson.
add a comment

Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin
memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.”

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci.
Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap.

Tentu masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang belum dikerjakan. Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus
menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

[Source : mail]

No Longer July 19, 2008

Posted by Global Quasis in Announcement, Articles, Business, Dynasis Network, Dynasis Online, Experience, Happiness, Hatred, Kesaksian, Knowledge, Life and Character, Life Story, Love, Manna, News, Peace, Poetry, Practice, Satisfaction, Spirit Lesson.
add a comment

Begitu aku mengasihi dia, mencintai dia
tp…
semuanya t`lah sirna, sia-sia
apakah benar sia-sia?
kenapa harus terjadi apa yg slama ini jauh dr harapanku
berharap ternyata tetep sia-sia

kenapa dia hrus berkata ‘bukan aku yg terbaik untukmu’
haruskah aq tersiksa sperti ini?
q berkata ‘tidak, km yg terbaik’

tp, hanya nada yg membuat q tdk tenang yg kluar dari mulut-nya
‘iya udahlah, pilihn ada pd km’
biarkan kasih sayang ini tetap terpendam
biarkan `n jngn perneh peduli lg

there’s no longer love for her
I dunno
it’s fact
it’s her choice
goodbye
I can’t help missing you
but
I can’t
`n
I must what I have to be
not to miss u but to forget u
no longer u r the only one
the fact, it’s not
`n the fact’s come to my life
life reality has to be faced

stand with my two feet
not my one foot

who next loves me best and vice versa
nobody, no, no, nope
I am just afraid of loving you
am I really afraid of?

just kiss me good bye
`n again
I will leave for good

in advance everybody, thanks

Just take it easy! Versi Indonesia from "What does Shinoda feel?" June 4, 2007

Posted by Global Quasis in Experience, Happiness, Knowledge, Life Story, Love, Poetry.
add a comment
Aku memohon ama Tuhan tuk km bahagia
tuk kamu dapat dipercaya
menuntunmu
disetiap waktu
berikan keberhasilan
berikan kesehatan
dan segala-galanya
pedulikan kamu setiap waktu
moga Tuhan meberkatimu
Setiap hari adalah kesempatan yang mengagumkan
tuk peduli
tuk mengasihi
tuk senyum
tuk berdoa
dan bersyukur karena berkat Tuhan
Aku berharap dapat mengoleksi kata-kata yang indah
menaruhnya di tanganmu dan menggenggamnya
Sahabat adalah malaikat
diutus dari surga
Mereka menuntun kamu
sayang ama kamu
dan menginspirasi kamu

kamu adalah malaikan yang termanis yang pernah aku punyai…
berharap, kamu akan jadi malaikat buat hidupku
Pantai tidak pernah bertemu
Mereka berbagi di samudera yang sama
Bulan dan bintang ga bisa bersama pada waktu yang sama
Mereka ada pada satu langit
Sahabat tidak juga sering betemu
Jangan pernah berhenti bersahabat denganku ya mer…:D
Sahabat bagaikan pepsi
minta ‘morep’
sabahat bagaikan ‘nikejuz’
Sahabat bagaikan Nokia
Menghubungkan orang
sahabat bagaikan Mcd
Aku suka kamu
Kamu mau aku jadi orang dewasa
Immer bilang, lakukan aja
berpikir positif
berpikir sebelum buat keputusan
bertanggung jawab
dewasa dalam perkataan, kelakuan, dll
Tuhan memberkatimu
Hidup membosankan tanpa sahabat, senang ketemu kamu!
berharap persahabatan kita tidak pernah berakhir
hidup bagaikan sebuah novel
banyak bab terbaca
dan terlupakan
tapi ada satu yang tidak akan terlupakan
yakni bab dikala ku bertemu kamu
dan kita menjadi sahabat
jaga persahabatan kita yeah…
Andai hidup sebuah permainan
berhadap kamu selalu menang
andai hidup sebuah perjalanan
berharap kamu berjalan dalam bunga mawar
andai hidup sebuah suka cita
berharap kamu selalu tersenyum, sahabatku…
met malam
Translated by Immer
“Terjemahan bebas”
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.