Kekuatan sendiri vs Mengandalkan Tuhan September 24, 2008
Posted by Global Quasis in Articles, Entrepreneurship, Kesaksian.add a comment
Ketika saya menulis kata pengantar buku Beyond Survival (a family business book), karya Dr. Leon Danco (USA), pada akhir tahun 2007, saya menulis perbedaan antara manajemen yang saya terapkan sekarang dan yang dahulu. Dahulu saya mengelola dengan kekuatan sendiri (by my way) dan sekarang mengandalakan Tuhan (by His way).
- By my way
Sebelum anak Tuhan dilahirkan kembali (lahir baru), kebanyakan mereka mengelola bisnis dengan kekuatan sendiri. Ini termasuk saya. Ada beberapa kegiatan yang pernah saya kelola dengan kekuatan sendiri seperti bisnis pendidikan, management consultant dan bahkan pelayanan rohani. Saya ditegur oleh Tuhan: “Kalau saya tidak menanyakan apa maunya Tuhan pasti jarang berhasil.” Bahkan dalam pelayanan rohani, saya merasa bangga karena sudah melayani dari Banda Aceh sampai Kupang, namun Tuhan berkata: “Yang kamu cintai adalah pekerjaanKu bukan Aku.” Mendapatkan pernyataan semacam itu saya menangis atas kebodohan rohani saya. - By His way
Mengelola dengan cara Tuhan adalah cara yang paling tepat. Saya bisa berkata begitu karena semua yang ada di dunia adalah miliki Tuhan dan kita adalah pengurus atau penata layan (steward). Kalau Tuhan sebagai pemilik, Dia tahu bagaimana dan apa yang harus dikerjakan (master planner). Sebagai pengelola, kita dianjurkan untuk menerapkan kasih terhadap bisnis yang kita kelola seperti milik sendiri (sense of belonging)
Oleh Dr. Leon Danco, saya diberi hak untuk menerjemahkan bukunya dan mendistribusikan se Asia Tenggara. Pada waktu Dr. Danco mengatakan itu seolah-olah saya tidak percaya. Apalagi sewaktu dia berkata bahwa royalty-nya untuk saya semua, rasanya mau menangis… praise to Lord…You are so kind.Beyond Survival sudah dicetak ulang (yang versi Indonesia). Saya berjanji untuk memberikan royalty tahun pertama buat gereja yang mengubah hidup saya. Beberapa waktu yang lalu buku
Setelah saya mentransfer lalu menelpon hamba Tuhan tersebut, beliau sempat kaget dan menangis karena belum ada satu jam beliau berdoa pada Tuhan agar mengirim seorang “raja” untuk memberi ongkos pelayanannya. Hal yang lebih menguatkan, keesokan hari, hamba Tuhan ini bercerita bahwa angka (Rp…) yang dilihat di mesin ATM sepertinya salah, namun dikeluarkan tunai kok tidak habis-habis dan persis untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi, mana yang lebih enak mengandalkan kekuatan sendiri atau Tuhan?Ev. Daud Tjondrorahardja.
If you wanna BE HAPPY September 19, 2008
Posted by Global Quasis in Articles, Entrepreneurship, Life and Character.add a comment
Sewaktu memberi seminar kewirausahaan, saya pernah memberi statement dan bertanya: “If you wanna be happy and rich, don’t go to school!” Lalu pertanyaannya, “Jenis pekerjaan apa itu atau seseorang yang bagaimana itu?”
Kelihatannya enak sekali membaca dan mendengar statement diatas. Ingin happy dan kaya namun tidak usah menuntut ilmu. Pekerjaan apa itu? Coba pikirkan, yang di Indonesia saja, tidak usah jauh-jauh di Amerika, Australia, atau Eropa. Di negara tertentu memang ada yang mendukung ada yang kontra. Buku nya pun sudah terbit beberapa tahun yang lalu dengan pengarang Robert T. Kiyosaki. Dia memang menulis apa yang dialami namun buku tersebut tidak boleh masuk Indonesia.
Jawaban dari statement diatas adalah PREMAN! Mari kita telaah satu persatu statement di atas. Ada dua kata kunci dan satu kalimat pengaruh. Dua kata kuncinya adalah HAPPY dan RICH, sedang kalimat pengaruhnya adalah DON’T GO TO SCHOOL.
- Happy
Apa beda happiness dan pleasure? Happiness kalau diterjemahkan hurufiahnya berarti senang dan sukacita, sedang pleasure (puas). Kalau dilihat seiring kemajuan jaman dan sikap konsumtif, banyak orang yang stress sedikit saja, inginnya makan yang enak-enak (biar puas). Kesal sedikit, inginnya kenikmatan dunia yang hanya sekejap (biar puas). Apakah kita senang hanya dengan makan sate kambing atau bermalam di hotel bintang lima. Apakah semuanya bisa dibeli dengan uang? Apakah sukacita bisa dibeli dengan uang? - Rich
Semua orang ingin kaya. Tidak ada salahnya dengan hal itu, asal dari Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Kita boleh suka pada kekayaan namun jangan cinta pada kekayaan. Apakah yang Tuhan janjikan pada kita? “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan (Mat 6:33).” - Don’t go to school
Saya benar-benar tidak ingin ‘latah’ dan tidak ingin berbuat salah. Dulu saya berpikir mau ambil S3, selarang S2 saya ternyata hanya disuruh Tuhan untuk mengerjakan hal-hal taktik saja, sedang strateginya tetap mengacu pada Tuhan.
Kita lihat contoh orang tua kita sendiri. Ayah Ibu saya hanya lulus SMA dan SMP. Teman saya seorang motivator No. 1 di Indonesia bergelar SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat). Lalu apakah sekolah tidak perlu? Jangan katakan tidak perlu kalau Tuhan mau pakai. Seseorang lulusan S3 sekarang ini diperlukan untuk menghitung terobosan micro finance agar bisa membuat sesama financial free dan happy. Jadi apa pilihan Anda?/Daud Tjondrorahardja, Warta Jemaat GKKD Djogja
Karakter seorang wirausaha September 16, 2008
Posted by Global Quasis in Articles, Entrepreneurship, Life and Character.1 comment so far
Waktu kelas 4 SD, setiap pulang sekolah karyawan ayah saya menjemput saya dengan menggunakan DKW (Sepeda motor dibawah 50 cc). Pada suatu hari kami mampir beli es campur dekat rumah. Cuaca yang panas terik pagi itu sangat mendung untuk minum es campur dengan cepat. Meskipun saya dibayarin untuk jatah satu gelas, saya mulai berpikir bagaimana supaya dapat jatah lebih namun legal dan tidak berbohong. “Pak!” panggilan saya kepada bapak tukang es. “Es saya terlalu manis pak, boleh minta tolong diberi air dengannya (air kelapa muda) dikit lagi, “tanya saya yang sudah hampir separoh gelas saya minum. Dan memang ditambahi air dengannya sampai gelas saya penuh lagi. “Terima kasih pak” kata saya, segera saya minum kembali. Dengan menggerutkan dahi dalam hati saya berkata “sekarang kurang manis.” Trik dagang orang tua saya langsung menyodok: “wah bapak terlalu banyak memberi airnya hingga manisnya hilang.” Sang bapak menambah sirup dengan senyum dan saya menerima dengan senyuman juga.Cerita diatas bukan untuk mengajari saudara-saudari “nakal”, namun mengerti karakter entrepreneurship. Seperti tertulis dikejadian 25:31, tetapi kata yakub: “juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” Roh yakun ngerti sekali apa yang diperlukan bagi dirinya. Lalu apa bedanya cerita diatas dengan yakub? kesamaannya sudah jelas yaitu jual menjual (Entrepreneurship). Perbedaannya yaitu roh Yakub mengerti sekali apa yang diperlukan. Roh dan cerita awal diatas hanya mengerti untuk memenuhi raga saja. Dari kedua cerita diatas yang perlu kita ambil hikmah karakternya adalah:
1. Jangan beli ‘ikan’nya. Maksud ‘ikan’ disini adalah raih kebutuhan roh, jangan keinginan daging
2. Beli ‘pancing’nya. Jangan anggap remeh ‘pancing’ yang diberikan pada kita dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saat ini, namun pergunakanlah sebagai ‘alat’ (Soft Skills) yang bisa untuk mencari kebutuhan terus-menerus.
3. Last but not least, entrepreneurship jangan diserap dikedangkalan, tapi seraplah entrepreneurship dalam orang mencari “harta karun” didasar laut.
Daud Tjondrorahardja [Warta Jemaat GKKD Djogja]

Last Update on September 14, 2008